Rabu, 06 Januari 2016

Kopi Susu - Matahari Pagi



Kopi Susu - Matahari Pagi
NURUL HAMBALI
        Aku adalah aku, aku yang dilahirkan dari keluarga yang sederhana, perih mengajarkan aku untuk mensyukuri kehidupan, menikamati rahmat Tuhan yang agung. Setiap datang fajar aku harus mulai mengayuh sepadaku. Sepeda yang dibeli ayah saat aku masuk sekolah tingkat atas. Ayah selalu mengajarkan kesederhanaan dalam hidup. Ayah selalu menghargai waktu. Ayah selalu mengulang ucapannya, waktu adalah matahari. Memberi kehangatan saat pagi, memberi cahaya saat siang, memberi nyawa kepada makhluk Tuhan. Aku selalu memejamkan mataku dan mengerutkan keningku sambil menghela nafasku. Karena aku belum mampu memahami ucapan ayah.
        Menanti fajar adalah waktu singkat aku dan ayah berdiskusi, karena tepat jam 06 pagi kami harus bergegas menuju rutinitas masing-masing. Segelas kopi dan susu siap di meja makan. Kopi hitam dengan rasa pahit selalu menemani pagi ayah, sedangkan susu putih manis adalah bagian dari pagiku. Aku pernah bertanya kepada ayah, kenapa kopi ayah tidak pernah dicampur gula? Ayah selalu menjawab dengan senyuman manisnya, tak pernah menjawab dengan alasan yang bisa aku pahami.
       Hangatnya matahari kini semakin terasa dan masuk kedalam sum-sum tulangku. Artinya matahari telah beranjak dari timur ke barat, matahari telah berada tepat dibalik punggungku. Keringatku sudah mulai meresap kedalam seragamku. Mengayuh sepeda dengan jarak 15 kilo dari rumah menuju sekolah bukan hal yang berat untuk aku lalui. Aku selalu senang ketika aku berada di atas sepedaku karena seiring perjalananku. Aku selalu membayangkan hal-hal yang menyenengkan, terutama membayangkan kehidupanku di masa depan, merajut asa meraih impian terbaik dengan ayah.
        Namun semua itu berjalan dengan cepat, aku tak mengayuh sepedaku lagi. Sekarang aku hanya tersenyum setiap pagi menatap mata ayah, menantang matahari dan memandangi segelas susu. Aku hanya mampu duduk dikursi roda, akhirnya aku tahu mengapa ayah selalu minum kopi tanpa gula, karena pahitnya kopi mengingatkan dia dengan hari ini, pahit mengajarkan dia untuk sabar setalah ibuku divonis mengidap kanker tulang dan lumpuh hingga akhirnya tersenyum dalam diam. Dan meninggalkan sisa takdirnya dalam tubuhku, aku sama dengan ibuku kanker tulang, tapi ayahku selalu memberiku segelas susu untuk memperbaiki tulangku, memberiku senyuman manis menghiasi pagiku.

Sabtu, 05 Desember 2015

Tersenyumlah

TERSENYUMLAH



Ketika kamu lelah akan semua tanjakkan, tikungan hidup, maka kamu lemah menjalani semua impian kamu. Memang manusia akan ada masanya menjadi orang yang tak berguna dalam menyelesaikan masalahnya. Begitu pula aku, hari ini aku merasakan hal dimana aku putus asa dengan himpitan rasa penat. Tak ingin lagi aku bernafas ingin rasanya lenyap dari kehidupan ini. Aku selalu berharap menjadi manusia tanpa masalah, tapi aku lupa bahwa setiap makhluk yang hidup pasti punya masalah. Yah kalau gak ada masalah bukan hidup dong,, teringat tentang mereka yang selalu berbisik kepadaku.
            Dari perjalan menuju asa impian, aku terus berjalan tegap berdiri menatap lurusnya jalan titian menuju impian. Bagaimana kita menyikapi rasa lelah akan semua masalah? Aku selalu mencoba untuk mencari akar dari masalah yang kuhadapi, semua solusi telah kucoba telusuri, namun tetap saja masalah selalu bertubi-tubi menghampiriku. Tak kuasa aku menahan rasa perih dalm relung hatiku, tak tahan menahan air mata yang selalu terisak dalam benakku. Aku beku seperti padatnya batu yang tedampar ditengah pasangnya laut. Hari demi hari aku lalui dengan perasaan cemas, takut akan semua suara yang bersarang, berdengung detelingaku. Aku tak mampu lagi menutup telingaku dengan kedua tanganku. Aku kalah.. aku menyerah.
            Namun suatu ketika, aku menemukan titik terang dalam kegelapan hidupku, saat kawan datang menyapaku dengan segaris senyuman diraut wajahnya aku menemukan kedamaian saat itu juga. Aku terpana akan senyum yang selalu mehias wajahnya, menghias setiap langkah kakinya, membuatku malu akan semua kebodohan yang aku lakukan, dia seorang yang tak pernah sedikitpun melepas senyumannya walau dia tak pernah meliat warna disetiap perjalannya, tapi dia mampu tersenyum kepada apapun itu, yang mana dia juga tidak tau tersenyum buat siapa. Tapi jelas dia jauh lebih tegar dariku. Akhirnya aku sadar setiap orang punya kekurangan, kelebihan dan punya masalah masing-masing. Tentang bagaimana kita mampu menyikapinya bagaimana kita mampu mengambil hikmahnya, kita mampu berfikir untuk bangkit dan selalu berfikir positif tersenyum pada masalah, tersenyum pada dunia, tersenyum pada setiap masalah. 

KAKAK
CERMIN ( CERITA MINI )


Minggu, 15 November 2015

Mengulang

Keinginan memang tak semudah harapan yang direncanakan, semua beranakan ketika kita tiba – tiba harus jujur dengan semua perasaan. Tapi itu  semua harus diungkapkan karena dengan itu hati yang dulu bertanya – tanya mendapatkan jawaban. Mungkin terlalu naif untuk dikatakan, sulit untuk mengungkapkan namun berkat tekad yang kuat dan berani semuanya terjadi walau tak pernah berfikir bagaimana akibatnya.
Hari ini tepat tanggal 21 Agust. 14 aku mengulang kesalahan untuk kedua kalinya, membuat dunia terdiam sejenak tanpa ada hembusan angin yang meniup ditelingaku, semuanya hening seakan seperti patung yang bersusun rapi diatas benteng kehidupan. Entah apa yang aku rasakan sampai aku berani menjadikan perteman yag seperti sahabat jadi terpecah dan membisu. Aku sebenarnya takut tapi aku tidak sanggup jika harus terus menerus menahan hasrat untuk dekat dengannya. Tapi apa jadinya nasi sudah menjadi bubur dan tak pernah sesuai dengan harapanku.

Seharusnya tak harus kulakukan kembali.

Selasa, 26 Mei 2015

25/05/15

25/05/15
          Kebanyakan orang menulis hanya memanfaatkan indra pendengar dan penglihat,mungkin aku salah satunya. Mendengar, melihat adalah andalanku untuk menulis sebuah cerita, gagasan atau hanya berupa ungkapan. Padahal Tuhan telah memberikan gumpalan serat terkait menjadi satu dalam isi kepala setiap manusia. Namun sampai saat ini aku masih belum dapat mengoptimalkan pusat pikiranku dalam menyelami imajinasi. Namun berkhayal selalu kulakukan saat aku sejenak diam. Senyap yang kurasakan ketika termenung selalu banyak pelangi dalam langit gelapku. Hari ini aku mencoba untuk memulai meraba jalan imajinasiku. Bias sinar dalam pelangi, warna-warni menghiasi malamku. Setiap sudut terlihat garis yang merajut dan merangkai sebuah arti.
          Detak jantungku tiba-tiba berdebar tak seperti biasanya, apa gerangan yang terjadi pada diriku. Melihat dia berjalan tegap dan fokus pada jalurnya membuat mataku terbelalak menuju rautnya. Pancaran matanya seakan-akan menghipnotis semua pikiranku. Membuat kaku bibirku hingga tidak bisa berkata dan hanya bisa menggumam dalam hati. Perlahan kutarik nafas panjangku dan memberanikan diriku melangkah tuk menghampirinya. Namun tiba-tiba, aku dikejutkan oleh temanku yang berjalan dari belakang menepuk pundakku. “Hey, masih pagi sudah melamun”. Hayo lagi-lagi lo hanya melihat dan terdiam cuma gara-gara orang itu?.. bangun dari mimpi lo, samperin tu orang ajak kenalan dong. Hemmm, aku hanya bisa tersenyum sambil mengehela nafasku. Mending kita masuk kelas aja yuk!!.
          Sejenak aku teringat dengan ucapan oci, benar juga jika hanya diam mana mungkin aku tahu jawaban dari sebuah pertanyaan yang bertumpuk dalam kepalaku. Tapi aku belum dan sepertinya tidak akan pernah siap melambaikan tanganku dan menyapa... hai aku Dera senang berkenalan denganmu. Hemm bisa-bisa aku mati berdiri karena pasti itu sangat memalukan. Masa iya cewe nyamperin duluan. Apa kata dunia walau ini jaman emansipasi tapi ini tetap saja suatu harga diri yang harus dipertahankan sampai kapan pun.
          Hari ini adalah hari yang membuatku angkat kepala dan ekstra menguras tenaga. Kembali bekerja pada naungan yang penuh dengan argumen. Terkadang aku hampir frustasi bekerja disini. Namun apa daya  hanya ini satu-satunya yang mampu menerima pekerjaan 22 hari dalam sebulan. Karena aku harus tetap kuliah walau harus menguras pikiran untuk membagi waktu mencari uang untuk membayar gubukku alias kosan. Mungkin ini kali ya yang membuatku hidup sendiri dan hanya bayanganku saja yang menemani ketika ada sinar matahari dan sorotan lampu jalanan. Usiaku tidak muda lagi diumur 22 tahun aku masih kuliah pada tingkat 7, bukan karena aku malas dan bodoh namun aku berhenti selama setahun untuk mengumpulkan biaya awal masuk kuliah setelah lulus sma. Sampai sekarang aku harus bisa mengumpulkan dana untuk biaya kelulusan nanti. Maklum aku kuliah di universitas swasta, yang setiap harinya banyak tagihan yang ditempel pada mading fakultas.

          Dera,,, Dera,, aghh suara ini rasanya tak asing lagi dari kejauhan 1 kilometer jika dia memanggil namaku pasti ketebak, suara sengau bos gue, yang keturunan cina membuatku kadang tergelitik saat mengucap namaku. Seperti batita yang baru belajar bicara.. huss lupakan!! dia bos setia yang selalu hadir setiap hari hanya ingin mengecek pelanggan yang makan. Padahal dia harus kuliah S2 dan jarak yan lumayan jauh namun dia selalu menyempatkan waktu ke warung. Rasanya rugi jika dia tidak melirik kami dan berdesis “ kerja yang benar”. Seperti ular, diam bukan berarti tidur namun fokus untuk mematok mangsa, menyiapkan strategi untuk membelitnya.

To be continiu........ wakwau

Sabtu, 23 Mei 2015

Chatting & Stalking

CHATTING & STALKING

Love mungkin tak terdengar asing lagi ditelingaku, setiap hari bahkan setiap detik aku selalu menemui kata love. Dari mulai siaran televisi sampai updetan status orang pada media sosial. Begitu banyak makna dalam kata love. Namun love tak dapat diukur melalui riset. Sampai sekarang belum pernah aku mendengar mahasiswa/i yang skripsinya ngebahas tentang love. Dari sini aku tertantang untuk membuktikan kadar seseorang yang mempunyai cinta pada pasangannya.
 Bagaimana rasa dia beri pada penerima. Aku meneliti love dari media sosial (Facebook) yang sengaja aku buat, namun tidak memakai biodata yang sebenarnya. Aku memalsukan semua data pribadi di akun ini.
Dan percobaan dimulai, hari pertama aku add semua pertemanan dan khususnya wanita pada FB, dan beraksi pada pada pengujian pertama.Ketika tanda on menyala aku beraksi.
Me :“Hay”
Rina : Ya
Me : namaku Boy, boleh kenal kan?
Rina :Udah tau kan siapa namaku? Kan kamu mulai duluan ngcat!!
Me :  iya,, salam kenal!

                Setiap Rina membuat status pada Fbnya aku selalu like dan coment, walau tidak diresponnya, tapi aku tetap semangat mengejarnya. Ketika aku beberapa hri tak membuka akunku. Tiba-tiba Rina Chat “ Kamu kemana”? aku kangen kamu Boy. Rasa cinta akan tumbuh dan tumbuh ketika seseorang merasa diperhatikan

Rabu, 13 Mei 2015

SEPEDA

        Mengayuh alunan kaki sepada mengantarkanku pada sebuah impian sempurnanya hidup, berawal dari pukul 04.20 wib aku membuka mata berdiam diri sembari mengumpulkan ruh kembali. Terdengar suara azan yang bergema mengwali hariku. Berdoa sebelum mengambil handuk untuk membersihkan tubuhku dari semua bunga tidur. Dinginnya air kran yang mengalir dalam bak mandi tak membuatku takut walau tubuh hampir beku, bibir membiru dan jari2 tanganku mulai keriput karena dinginnya pagi. Kembali aku berdiam dan berdoa pada Tuhan atas nikmat setiap detiknya.

                Air yang sengaja kurebus dengan ricecooker mengeluarkan uap yang artinya air telah mendidih, 1 ½ sendok gula bercampur satu kantong teh siap meluncur dalam segelas air hangat. Sambil kuaduk lembut membayangkan perjalanan hari-hariku yang penuh kerikil – kerikil kecil sekitarku. Alunan lagu yang sengaja kustel dinotebook membuat kutersenyum dan menikmati pagi ini.

                Potongan martabak yang sengaja aku sisakan untuk sarapan menjadi pengisi perut dan sebatang rokok yang tersisa pada kotak bergambar racun menjadi teman rutin makan pagi. Tersentak dari khayalanku tiba-tiba hp berdering, bbm dari teman sekelasku “ hari ini ada tugas dey”? aku baru sadar hari ini mata kuliah Pengindeksan & abstrak perpustakaan, yang seminggu lalu dosen memberi tugas membuat bibliografi. “ ada, membuat min. 10 bibliografi”. Huft.. untung masih subuh aku masih sempat mengerjakan tugas kuliah, dan aku tidak terlalu ribet untuk mengerjakannya, karena hobbyku saat ini adalah membaca, dan koleksi buku yang kumiliki lebih dari sepuluh.

                Kembali aku melihat jam ditanganku, jarum jam menunjukan pukul 07.30 wib, waktunya aku membuka  pintu dan mengeluarkan sepeda untuk menjadi angkutan pribadiku. Berdiri dan berdim aku menatap matahari namun aku masih tetap tidak berani membuka mataku karena aku tidak kuat dengan silau sinarnya, jika ingin menantapnya aku sudah menyediakan kaca mata hitam sebagai pelindung. Tak perduli orang-orang sekelililngku menatap tanjam kearahku. Sebenarnya aku juga ingin melepas kaca mata ini. Namun mataku sensitif dengan cahaya matahari walau mereka tidak tahu itu. Dalam diriku banyak orang yang tidak tahu namun banyak juga orang yang mengenalku. Cukup dengan senyuman yang kulempar pada setiap orang, mungkin itu cara jitu untuk membuat orang lain beralih dari mengoreksi penampilanku dan membiarkannya lenyap dari pikiran mereka. Lagi-lagi aku orang pertama yang duduk dikoridor fakultas dan kembali kuambil sebatang rokok dan menghisapnya sebagai teman pendamping setia. Aku mahasiswa perantau. Orang tuaku asli sumetera namun bersuku banjar, aku terbiasa hidup sendiri, karena ayah mengajariku untuk survive dari kejamnya hidup. Maklum aku baru saja kehilangan ibu yang artinya aku harus siap dengan kondisisi apapun dan siap juga untuk mengganti teman curhat, setiap anak pasti menceritakan kejadian yang dilaluinya kepada ibu. Aku termasuk orang yang pasif dengan semua cerita hidup jadi jarang sekali aku berbincang dengan ibu untuk masalah pribadi, bagiku semua cerita tak harus kuceritakan pada ibu. Walau aku tahu rasanya ketika kita bercerita dengan ibu semua masalah pasti ada jalan keluarnya. namun karena sikapku yang terlalu cuek dengan itu maka biarkan semua masalah bergulir dikepalaku dan membiarkannya berputar serta mencari jalan keluarnya. Ayahku hanya seorang self employed jadi biaya hidupku sudah diatur dan batasi, aku tidak mengeluh hal itu karena aku tahu siapa ayahku. Untuk mengatasi kekurangku aku selalu mencari solusinya, ayah selalu berpesan apapu yang diberi dan kita punya kita tetap harus tetap bersyukur. Aku tidak pernah meminta yang bukan prioritasku walau itu sebagai pendukung kelangsungan hidup. Aku bertahan dengan semua aset yang kumiliki. Namun pada saat ini aku merasa cukup dengan apa yang diberi sam Tuhan melalui ayah. Hidupku sempurna aku tak sedikitpun merasa kekurangan. Karena benar bersyukur adalah cara ampuh untuk menikmati hidup ini.


                Aku bekerja dengan temanku menjadi pelayan sekaligus penggoreng tahu. Yah aku tidak mencari pekerjaan namun temanku tahu aku butuh. Yah sebenarnya tidak juga, karena aku merasa cukup tapi kalau lebih kenapa gak aku coba. Aku bekerja 5 hari dalam seminggu, karena temanku tahu jadwal kuliah dan dia merupakan orang terbaik yang kukenal. Aku kerja tanpa mengganggu jadwal kuliah jadi tak perlu khawatir untuk hal itu, selagi masih bisa kuliah dapat bonus untuk tambahan uang saku. Jam kerjaku juga sesuai dengan mauku. Start jam 11 hingga 11 malam. J hari-hariku penuh dengan rutinitas saat ini, jadi tak ada waktu yang kusia-siakan, semua bermanfaat. Namun terkadang aku merasa jenuh dengan itu karena tak ada waktu santai untuk bermain gitar dan lebih lama bergurau dengan sahabat. Tapi apa boleh buat aku mahasiswa yang sebentar lagi semester akhir, jadi harus siap-siap tempur untuk terjun didunia kerja. Ini juga menjadi awal untuk aku mulai bertanggung jawab. Sebab aku punya cita-cita untuk biayai sekolah kedua adikku. 


MAU TAHU KELANJUTANNYA? NANTIKAN BUKUNYA.. HEHEHE UNTUK KRITIK & SARAN KIRIM EMAIL SAJA KE SAYA.. :) 

Sabtu, 09 Mei 2015

BUNDA ANI ( MAMAK KAKAK TERCINTA )

            Terbangun dari tidurku, dan tersadar hari ini jadwal penerbangan menuju kampung halamanku Medan, tepat pukul 13.00 WIB aku tiba dibandara, namun pesawat yang akan aku tumpangin take off pada pukul 16.30 WIB.
            Sebelum aku tiba di bandara, aku merapihkan semua barang kedalam tas, selanjutnya aku bergegas menuju kampus untuk berpmitan dengan sahabatku Yuli. Dia tidak menyangka liburan kuliah semester ganjil ini aku akan pulang. Sebenarnya aku juga tidak memikirkan untuk meninggalkan Bandung, namun malam tadi aku menerima telepon dari ayah yang terisak tangis tiada henti, mengabarkan aku harus segera pulang saat itu juga.
            Ayah mentranfer uang untuk aku membeli tiket, alhasil aku harus menggambilnya melalui wesel pos. Karena ayah tidak menyimpan sesen pun uang didalam ATMnya. Pagipun menghampiriku dan mengharuskanku mengayuh sepeda kosan untuk pergi ke pos demi memiliki tiket pesawat.
            Aku menunggu sahabatku sekitar satu jam dikampus karena jarak rumah Yuli yang terbilang jauh dan dibarengi dengan macetnya jalanan menuju kampus. Maklum hari ini weekand semua orang berbondong-bondong menuju lokasi wisata masing-masing untuk mengisi hari libur setelah seminggu bekerja besama keluarga mereka.
            Tiba-tiba cacing didalam perutku meronta seraya memangil dan menggerakan untuk mengisi sesuap nasi, sembari aku menunggu aku meluangkan waktuku untuk makan dikanting belakang, maklum dari malam tadi tak sedikitpun perutku terisi makanan karena mendengar kondisi mamakku  yang lagi sekarat dirumah sakit. Pikiranku kacau tak henti-henti air mata kuteteskan membasahi pipiku.
            Tiba dikantin aku merasa asing dengan hari ini. Aku hanya memandangi setumpuk makanan dipiringku dan melahapnya perlahan, tanpa menghiraukan orang-orang disekililingku. Mungkin dalam hati mereka bertanya mau kemanakah aku membawa tas yang yang berisi setumpuk pakaian ini.
            Aku lanjut memakan sisa makananku, dan sibuk sms yuli hanya sekedar menanyakan sudah sampai manakah dia. Tak terasa makananku habis kulumat dalam mulut, dan perutku merasa kenyang dan tak ingin lagi menerima apapun lagi.
            Lima menit setelah aku menghabiskan makananku dan membayar bon tagihan. Yuli pun tiba dikampus, akupun langung menghampiri dia dan berjabat tangan dengan dia. Aku heran kenapa dia menangis mungkin karena dia mendengar cerita kalau mamakku kurang sehat.
            Setelah aku berpamitan dengan Yuli aku bergegas mencari angkot yang akan mengantarkanku menuju bandara. Jarak antara kampus dengan bandara Husein Sastranegara Bandung cukup jauh butuh waktu sejam untuk sampai lokasi. Sebenarnya aku tidak harus secepat ini meninggalkan kosan, namun dalam pikiranku ini pertama kalinya aku berangkat sendiri menuju bandara dan aku tidak tahu jalan. Sehingga aku harus bertanya pada supir angkot yang kutumpangi. Untuk sampai bandara aku harus naik turun angkot tiga kali dan berjalan 100 meter untuk tiba di Husein Sastranegara.
            Tibnya aku dibandara aku langsung menuju loket penjualan tiket dan memesan 1 tiket menuju Medan. Selama menunggu jadwal keberangkatanku aku duduk dipelataran aiport seperti seseorang yang hilang kesadaran dan terdiam melamun tepaku menatap komputer jinjing yang sengaja aku aktifkan demi mengupdate status difacebook untuk sembari menshare momenku hari ini.
            Lelah, penat rasanya aku menunggu yang terlalu lama tanpa bergerak dari tempat duduk yang beralaskan lantai keramik putih. Tulak ekor bokongku terasa sakit dan sesekali aku berdiri melihat jam ditanganku dan menghela nafas panjang.
            Pukul 15.55 WIB aku berdiri dan berjalan menuju menja kecil untuk menukaran tiket dengan bording pass dan mengambil tempat dudukku. Dan kembali aku duduk diruang tunggu penumpang. Dan kebetulan didalam ruang tunggu pihak airpot menyediakan musolah dan mukena didalamnya aku sontak mengambil wudhu dan menunaikan shalat asharku.
            Tiba – tiba suara operator bandara menginformasikan keberangkatan semua maskapai penerbangan mengalami keterlambatan dikarenakan cuaca hari ini memang tidak cukup baik yang mengharuskan dan membuat semua penumpang maskapai menghela nafas dan bersabar ditempat duduk mereka. Hemm aku melirik jam tanganku dan menghitung lamanya aku berada dipusaran bandara. 6 jam aku menunggu dan berbuah hasil tepat pukul 18.50 WIB pesawatku tiba dan bergegas aku berjalan menuju kabin dan duduk pada kursi 23A.
            Setelah konfirmasi dari pramugari yang mengharuskan aku duduk tegap untuk melihatnya dan memperhatikan ketika sesuatu daang menghampiri didalam pesawat. Aku melirik kanan dan kiri ternyata tak ada satupun penumpang dalam barisanku. Dan kulihat belakang dan depan dudukku juga sama. Malam ini penumpang tidak full. Aku merasa lega karena tidak ramai dan aku bisa bersantai sesukaku dan menikmati penerbanganku dan melihat keluar jendela yang malam itu awan menghitam tak satupun bintang bersinar.
            Selama 2 jam 30 menit aku berada didalam pesawat aku hanya menutup telingaku dengar earphone mendengarkan musik melow yang memahami perasaanku saat ini. Pengeras suarapun terdengar co pilot mengkonfirmasikan bawa pesawat yang aku tumpangi akan segera lending dibandara internasionl Kuala Namu Medan. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kakiku dibandara ini yang baru diremismikn 2 tahun lalu. Bagitu aku memasuki arena bandara aku segera mengaktifkan ponselku dan menghubungi ayahku yang menjemputku dibandara.
            Tak lama aku turun dari eskalator aku melihat sosok tegap dan melirik kerahku. Dialah ayahku yang siap menjemput dn mengantarkanku ke rumah sakit menemui mamakku yang lemah tak berdaya diranjang rumah sakit. Aku langsung memeluk dn mencium kening mamakku dan semabari melihat tubuh yang hampir tak aku kenali, mmakku yang dulu sedikit berisi dan sekarang hanya tulang yang terbalut kulit tubuhnya. Aku tak menyangga mamakku sakit separah ini.
            Tanpa meminum air dan mengganti pakaianku aku hanya duduk diam disampingnya dan mengusap tubuhnya. Hatiku semakin hancur ketika melihat langsung orang yang melahirkan dan membesarkanku selama ini menahan sakit yang dia derita. Yang akhirnya sedikitpun waktuku terbuang sia-sia, aku hanya memberikan semua apa yang dia mau. J dan pada akhirnya waktu ini berakhir aku ikhlas dan tersenyum dengan melepas pelukan hangat dari mamak. Aku yakin mamak lebih bahagia disisi Tuhan.


THE END